Ketika Romeo (membenci) Juliet
Baru di pasca sarjana ini aku tahu, kalau cerita klasik romansa Romeo dan Juliet itu adalah sebuah semiotika - Ilmu yang membahas tentang tanda disebut dengan semiotik (the study of signs).
Drama klasik romansa itu, menandakan sebuah relasi yang tak mungkin bisa “bertemu” di sebuah titik keharmonisan, karena nya di bangun sebuah mimpi idealis, yang mempertemukan “ketidaksesuaian” itu menjadi sebuah relasi yang harmonis.
Kembali pada keinginan untuk membangun relasi harmonis itu, seyogya nya kita bisa lebih sedikit sensitif, apakah kita telah benar-benar membangun sebuah jembatan tanpa pamrih dengan orang-orang di sekeliling kita, tanpa melihat label yang menempel. Apakah kita telah sedemikian tulus dengan mereka-mereka yang bersedia memberikan segala sesuatu yang di miliki, hanya untuk mempermudah hidup kita?
Kadang sebuah kebaikan terasa begitu “biasa” dan tak “istimewa” lagi, karena kita merasakannya setiap hari. Istri yang bangun sejak pukul 04.00 dan mulai beraktifitas tanpa “henti” - menyiapkan segala kebutuhan suami dan anak-anak, seorang suami yang rela menahan rindu pergi jauh dari pelukan hangat istri serta teriakan-teriakan kecil yang manja dari mulut-mulut kecil, atau apa pun hal-hal baik yang tak lagi terasa istimewa, karena terlalu biasa dan sering di peroleh tanpa susah payah.
Jadi, haruskan Romeo (membenci) Juliet? Ataupun sebalik nya, karena tak lagi terasa penanda dan petanda di antara relasi-relasi sosial yang ada.