Manuskrip Seorang Perempuan
-Kristal Satu-
Ketika aku (kita) menjadi perempuan mandiri
Aku ingat sekali, saat aku berulang ke-17, aku memiliki 3 wishes yang ku ucap saat aku menuip lilin ulang tahun ku:
1. Aku ingin seperti mama
2. Aku ingin seperti mama
3. Aku ingin seperti mama…perempuan yang mandiri.
Tiga ”wishes” yang kemudian benar menjadi kenyataan. Aku bisa menyelesaikan studi S1 ku dalam kurun waktu 3.5 tahun, dan semenjak aku menyandang titel S.Sos di belakang namaku itu, terjunlah aku ke industri di mana aku mengaplikasikan ilmu ku. Karir pertama ku di mulai di sebuah klub kebugaran di sebuah Hotel di kawasan Slipi.
Pengalaman pertama aku mampu menghasilkan uang dari keringatku sendiri. Sejak hari pertama ku memasuki babak baru sebagai seorang pekerja perempuan – aku kemudian membentuk label ku sendiri, aku adalah seorang perempuan mandiri. Hanya karena restu dan Ridho-Nya lah, aku berkesempatan untuk akhirnya benar-benar merasakan kesuksesan ku di dunia kerja. Di level manajerial pun aku sempat merasakan ”senangnya” memiliki posisi strategis di sebuah organisasi dan bergaji lumayan.
Alloh selalu menguji kita tidak hanya dengan kesusahan ataupun kesedihan.
Namun yang paling dashat adalah ujian yang diberikanNya pada sebuah kesuksesan – dan itu yang aku peroleh dariNya. Aku kemudian terhanyut oleh segala sesuatu yang begitu kubanggakan pada masa itu. Aku bisa membeli apapun yang aku inginkan untuk memenugi hasrat individualku, tanpa aku harus menggantungkan pada orang lain. Aku kemudian terbentuk menjadi seorang pribadi yang begitu sangat percaya diri.
Dalam konteks apapun, aku selalu merasa begitu yakin, bahwa aku bisa memperoleh apapun yang aku ingin, tanpa harus berkompromi dengan siapapun, karena aku adalah perempuan mandiri (= independent). Keyakinan itu begitu merasuk sel-sel otak ku dan menjadikan diri ku memiliki sebuah konsep relasi yang ”selfish” terhadap gender bernama laki-laki.
Bagi ku, saat itu aku merasa tidak terlalu penting aku memiliki sebuah relasi dan menjadikan konsep pertemanan dengan lawan jenis itu menjadi sebuah komitmen yang berjangka panjang. Sampai kemudian hal itu menjadi issues penting bagi kedua orang tua ku, terutama mama. Kapan aku mau menikah?
Kemandirian menjadi sebuah konsep yang salah aku interpretasikan pada saat itu. Aku melihat kemampuan yang aku miliki saat itu, tak mengharuskan aku untuk merasa perlu menjalin relasi di jenjang yang lebih tinggi. Berkomitmen. Konsep kemandirian yang aku labelkan di diriku, membawa aku pada pusaran dunia pergaulan yang sarat dengan sekulerisme dan hedonisme. Buatku, apa yang aku peroleh dari hasil jerih payahku, adalah pantas untuk aku belanjakan demi kesenangan hatiku. Clubbing, shopping, terminologi yang seperti nya cukup mewakili hobi ku saat itu.
Bentuk relasi ku dengan lawan jenis pun tak terarah. Tak pernah aku memiliki sebuah panduan baku, tentang idealnya seorang laki-laki yang bisa menjadi imam buatku. Dan itu tak cuma aku. Apakah memang demikian hukum berjalan? Semakin tinggi kemandirian seorang perempun, semakin tinggi perempuan tersebut berada di puncak tangga kesuksesan, maka akan semakin besar pula rasa ”phobia” dalam diri untuk memilih dan memutuskan, siapa pendamping hidup kelak.
Akan hadir sekali banyak ”excuses” apabila seorang lawan jenis hadir mengulurkan perhatian, salah satunya ”kamu suka aku atau suka UANG KU?”. Ini jika sang lawan jenis yang datang ”tidak sederajat” dengan sang perempuan mandiri. Dan apabila yang hadir adalah lawan jenis yang memang sudah ”sederajat” atau bahkan lebih, sang perempuan mandiri akan memasang signal lampu merah yang lebih terang lagi, seperti, ”hei, kamu kira karena kamu lebih pintar/kaya/sukses dari aku, kamu bisa ”membeli ku?” Dan saat aku menuliskan ini, aku hanya dapat bersyukur, mengucap banyak hamdalah, karena aku tak terlalu jauh terseret dalam pusaran yang aku ciptakan sendiri itu. Ada 2 permata hati saat ini yang jauh lebih indah dan berharga di hidupku. Sementara, maaf, 2 sahabat karib ku yang sama-sama melabelkan diri dengan ”perempuan mandiri” sampai detik ini, belum lagi menemukan tambatan hati.
Pastilah Alloh berkehendak yang baik bagi 2 sahabat karib ku itu, apa pun adanya saat ini. Tapi, bagi ku pribadi, aku percaya kata bijak, bukankah tak akan pernah berubah nasib suatu kaum, apabila kaum itu sendiri tak ingin mengubahnya?! Semoga ”ketidaktahuan ku” itu bisa menjadi kecerdasanku di masa kini dan masa yang akan datang. Tidak hanya untukku, mungkin juga untuk perempuan-perempuan lain, yang saat ini, atau esok, lusa, berkesempatan melabelkan dirinya menjadi seorang perempuan mandiri.