Kabar eksekusi 3 terpidana peristiwa Bom Bali itu marak mewarnai televisi. Beberapa waktu sebelum nya aku sempat memberikan sedikit opini, saat adik bungsu ku menelurkan issues tentang kematian di posting face book nya.
Aku tertarik kemudian membuat sebuah tulisan kecil, menyambung issues tersebut.
If We Die..Saat Maut Menjemput
Pernah kubaca sebuah editorial tentang hal kematian; Imam Bukhori meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Ali r.a pernah berkata, “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat. Karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal, tidak ada penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada amal.
Rasululloh SAW bersabda, “Banyak2 lah mengingat pemusnah kenikmatan”
Kembali pada soal eksekusi yang telah dilaksanakan pada 3 terpidana mati peristiwa Bom Bali di atas. Kematian yang dilalui oleh ketiga nya, adalah syahid, sebuah kematian untuk membela sebiah keyakinan, membela Agama Alloh, untuk sebuah tiket ke surga. Itu yang ketiga nya yakini.Kematian yang mereka “ciptakan” bagi ratusan manusia yang “tidak bersalah” - di namai dengan “JIHAD”. Lantas Milik siapa Jihad ini ?
Sebuah stasiun swasta, membuat program bertajuk, “Jihad, Milik Siapa?”
Secara umum, opini yang dibentuk, adalah bahwa Jihad yang dilakukan diatas jelas adalah SALAH, tidak sesuai dengan apa yang di maksud di dalam Islam. Ketiga nya menyebabkan ratusan kematiaan manusia atas hal yang diyakini secara menyimpang.
Sengaja ku kutip beberapa ide tulisan Bahtiar HS, yang berkaitan dengan ide post ku kali ini, lewat kolom oase iman era muslim.com:
“Bagi orang yang baik amalnya di dunia ini,“kembalinya kepada Allah bagaikan seorang musafir ketika kembali kepada keluarganya setelah bepergian jauh. Sedangkan kembalinya seorang yang durhaka kepada Allah bagaikan seorang hamba sahaya yang dipaksa kembali kepada tuannya karena telah melarikan diri darinya.”
Al-Qur’an menamai maut antara lain dengan al-yaqin (keyakinan). Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin. (QS. Al-Hijr: 99). Kematian adalah keyakinan, tak seorang pun menyangsikan kehadirannya yang pasti bakal terjadi. Sayyidina Ali ra. berkata,
“Saya tidak pernah melihat suatu yang batil (yang akan punah) tetapi dianggap haq (pasti dan akan langgeng) sebagaimana halnya kehidupan dunia. Dan tidak pernah pula saya melihat sesuatu yang haq (pasti) tetapi diduga batil (lenyap tanpa wujud) seperti halnya maut.”
Jika kematian laksana sebuah pintu yang setiap orang akan melewatinya, yang memisahkan antara kehidupan di dunia dengan kehidupan entah sesudah melewatinya, maka sudah seyogyanya orientasi hidup di dunia ini hendaknya difokuskan untuk mempersiapkan kehidupan yang kedua nanti. Dan ketika manusia memiliki naluri untuk mempertahankan diri agar hidup kekal abadi (gharizatul baqa‘)
Dimana saja kamu berada, kata Al-Qur’an, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng-benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS. An-Nisa: 78).
“Mereka” (mungkin dalam tulisan ini, adalah 3 terpidana mati peristiwa Bali tersebut) - adalah orang-orang yang sudah mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal itu, yang telah membangunnya sedemikian rupa semasa di dunia ini, maka kematian yang datang dalam rupa apapun, bagi mereka seperti buncah kerinduan, sebagaimana Anas bin Nadhr ra. mencium wangi surga saat perang Uhud berkecamuk di depan mata.
Kematian justru dirindukan, tanpa rasa gentar ketakutan. Kepulangan yang semacam ini ke haribaan ilahi digambarkan Abu Hazm seperti seorang musafir yang diliputi rasa rindu ingin cepat pulang untuk bertemu dengan anak dan istrinya yang telah berpisah dengannya sekian lama.
If I Die, harap ku aku adalah seorang musafir dan bukan seorang hamba sahaya.