Manusia Biasa
Pagi itu seorang sahabat perempuan menelepon ku. Seorang sahabat yang sangat lama tak pernah mengirimkan kabar nya pada ku. Jadi telepon nya pagi itu sangat lah mengejut kan ku. Tapi tenyata kejutan itu tak hanya berhenti di situ. Ia mulai menceritakan semua peristiwa yang ia alamai selama kurun waktu lama kami tak saling berkomunikasi. Sahabatku itu bercerita, bahwa ia telah banyak melakukan kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang mungkin di kacamata manusia, sulit untuk diterima dengan ikhlas untuk di maklumi. Yang tidak bisa di excuses hanya dengan kalimat “Ah, kita kan cuman manusia, yang gak luput dari khilaf, manusia kan gak sempurna” Dalih bahwa manusia itu t ak sempurna itu kemudian menjadi sebuah pemikiran bagi ku. Apakah benar, kita bisa senantiasa menggunakan frasa itu untuk sekedar mengargumentasi kan tindak laku buruk yang terlanjur sudah kita lakukan? Atau mungkin, justru kalimat pendek itu adalah cerminan sempurna bahwa manusia tak sempurna, berlindung di balik tiga kata itu tadi?! Perjalanan ku bersama keluarga batihku selama 2 hari kemarin tour jawa-bali, mengisyaratkan jawaban atas pertanyaan kecil ku di atas. Kebersamaan kami setelah banyak waktu kami terkukung kesibukan pribadi dan keluarga kecil kami masing-masing, yang terkadang juga di dera konflik2 pribadi yang berbenturan di koridor kebersamaan keluarga, memberikan sebuah sinyal positif, bahwa sesungguhnya tak mengapa jika kita berdalih bahwa kita cuma manusia biasa yg tak sempurna, tapi bukan berarti bahwa ketidaksempurnaan itu semakin merapuhkan keinginan kita, untuk menjadi sosok yang bisa senantiasa bertindak dengan berpikir matang, sebelum kita “terpaksa” berdalih ” ah, aku kan cuma manusia biasa”