World Komunika Oryza

October 26th, 2008

Thanks To Alloh SWT

Posted by oryzasinatra in Religion

Ya Alloh,

Terima Kasih atas segala kemudahan urusan, kelancaran lisan, dan kecerdasan pikiran yang Engkau perkenankan aku miliki pagi tadi. Tanpa Mu, aku pasti lah kesulitan memperoleh kesenangan hati yang aku rasakan saat detik ini aku menari di atas tuts keyboard vostra 1400 ku. Terima kasih ya Alloh.

October 26th, 2008

77.7 dan 90

Posted by oryzasinatra in Uncategorized

Pagi tadi aku bangun dengan segala kenervousan ku, melebihi kenervousan tanggal 2 Agustus 2003, pagi.

Sungguh, sepertinya sidang seminar ini, melebihi kegelisahan2 ku yang dulu2 juga aku sempat rasakan, tapi yg pagi tadi ku rasakan lebih dasyat. Melebihi pagi 2 Agustus 2003, dimana jam 10.00 WIB aku tak lagi menjadi seorang perempuan lajang. Melebihi kegelisahan ku di tanggal 28 Oktober 2005, pukul 20.00WIB saat aku memasuki ruang persalinan Siloam Graha Medika. Malah lebih menakutkan di banding ketika dokter anestesi menyuntikkan suntikan ke punggung ku, tgl 15 Agustus 2007,pukul 08.00 WIB, agar Sectio ku berjalan lancar. Pernikahan, kelahiran normal Alham, persalinan caesar Almas, semuanya membuat aku keringat dingin. Semua nya. Tapi apa yang aku rasa tadi pagi sungguh hampir membuat aku mampu membawa aku ke titik “ketidakpercayaan diri” yang jatuh terlalu dalam. Alhamdulillah, teman2 di Angkatan 4 demikian mengerti, bahwa peristiwa tadi pagi itu, adalah pintu pertama yang harus aku “buka”, untuk menuju destinasi terakhirku, M.Si.

Prof Andy menuliskan skor 7.77, sementara Pak Farid berbaik hati menghadiahkan 90 untuk performa presentasi ide penelitian ku.

Semoga Insya Alloh, Desember 2008, entah di hari dan tanggal apa, aku sudah tentu akan mengalami kegelisahan yang sama seperti malam tadi. Tapi harapanku, setelah itu, aku akan menggantikan kegelisahan itu dengan kebahagiaan terdalam. Amanah yang dipercayakan suami ku, Insya Alloh tertunaikan dengan baik. Aku bisa menjadi: Oryza Devi Sinatra, S.Sos,M.Si/MarComm Specialist. Amin.

October 19th, 2008

Sebuah Cita-Cita

Posted by oryzasinatra in Uncategorized  Tagged

Pagi tadi, saat di perjalanan mengantarkan Alham ke Al Bayan, di Radio Farhan sedang membuka topik tentang issues hangat dunia. Global crisis. Whuuuopss.. amerika yang demam, kita ikutan meriang. Begitu Farhan bilang tadi. Apakah benar, sedemikian besar impact yang di hasilkan?

Adalah sebuah cita-cita suatu saat kita tak perlu lagi punya program TV dengan tittle KPK (Kumpulan Perkara Korupsi), karena memang sudah tak ada lagi penjahat-penjahat berbaju necis yang bisa menjadi talent di acara tersebut.

Adalah sebuah cita-cita, aku dan banyak ibu lainnya, bisa dengan nafas lega mengatur uang belanja RT mingguan, tanpa di warnai kerutan di wajah (yang notebene bukan atas bantuan P***S, kosmetik perempuan objek penelitian ku itu.

Adalah sebuah cita-cita, aku tak menjadi miris hati lagi, melihat seorang bayi yang coreng-moreng terkena asap knalpot kendaraan di lampu-lampu merahi,  yang digendong berpanas matahari demi sekeping logam 500rp.

Apakah memang cuplikan kecil itu memang tetap harus jadi sebuah cita-cita, tanpa makna?

Bisakah kita  punya pemimpin yang selalu memiliki kata sakti “Harus Bisa!”di setiap perbuatannnya? Kapan the next leaders itu lahir??

October 11th, 2008

Ummu Madrasatun ‘Ula

Posted by oryzasinatra in Being A Mom

…Jika kita mengaku sebagai orang yang perduli dengan ayat-ayat Alah, seharusnya kita wajib mengembalikan posisi perempuan ke tempat yang sangat terhormat sebagai Ummu Madrasatun ‘Ula, Sang Pendidik Utama di dalam keluarga, jadi bukan menyerahkan pendidikan anak-anak kita kepada pesawat teve, pembantu, atau guru yang datang ke rumah kita karena mendapat honor. Kita harus menentang dan menolak sunnah-Yahudi, walau langkah itu terkesan kurang populer di masa sekarang. Karena al-haq itu tetaplah al-haq, walau hal itu populer atau tidak..(eramuslim.com)

Cuplikan di atas sempat terbaca oleh ku, dan aku hanya bisa berkata dalam hati, Alhamdulillah. Alhamdulillah karena aku bisa di amanahi Alloh 2 mutiara hati, Ghaza& Ghasanni. Alhamdulillah karena aku berkesempatan merawat mereka 24 jam dengan tangan ku sendiri. Alhamdulillah karena aku bisa memberikan ASI eksklusif untuk Ghasanni. Alhamdullilah karena mereka aku selalu bersemangat menyelesaikan Master ku.

Tadi malam aku sempat membuka dan membaca lagi majalah Parenting ku. Ada sebuah artikel bagus tentang bagaimana “berat” nya menjadi seorang ibu. Jadi Ibu adalah kerja 24 jam non stop (mungkin 24 jam saja masih kurang ya?:)), tanpa jeda istirahat formal, plus teriakan, tangisan, rengekan yang kalo semua nya di ladeni bisa bikin jantung makin cepat berdebar, menahan emosi jiwa. Susah kah jadi ibu yang sendiri turun tangan merawat buah hati tercinta? Bisa ku jawab dengan pasti, TIDAK - SELAMA KITA IKHLAS MELAKUKAN NYA.  That was I did. Bisa jadi orang pertama yang tahu, tumbuh gigi baru di mulut Almas, bisa jadi interpreter sejati untuk celotehan Almas, jadi sebuah hal priceless bagi ku. Di artikel itu, yang membuatku sangat bahagia adalah, bahwa tugas ku sekarang (yang maha penting di bandingkan saat aku duduk menjadi Head of PR di Pusat Perbelanjaan besar di Jakarta itu) adalah masa menanam, dan kelak aku bisa menuai hasilnya. Ah, tidak. Sekarang pun aku sudah menuai. Hal di atas yang aku bagi barusan, itu adalah keuntungan ku. Ah, senang nya bisa jadi ibu!

October 7th, 2008

Manusia Biasa

Posted by oryzasinatra in Uncategorized

Pagi itu seorang sahabat perempuan menelepon ku. Seorang sahabat yang sangat lama tak pernah mengirimkan kabar nya pada ku. Jadi telepon nya pagi itu sangat lah mengejut kan ku. Tapi tenyata kejutan itu tak hanya berhenti di situ. Ia mulai menceritakan semua peristiwa yang ia alamai selama kurun waktu lama kami tak saling berkomunikasi. Sahabatku itu bercerita, bahwa ia telah banyak melakukan kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang mungkin di kacamata manusia, sulit untuk diterima dengan ikhlas untuk di maklumi. Yang tidak bisa di excuses hanya dengan kalimat “Ah, kita kan cuman manusia, yang gak luput dari khilaf, manusia kan gak sempurna” Dalih bahwa manusia itu t ak sempurna itu kemudian menjadi sebuah pemikiran bagi ku. Apakah benar, kita bisa senantiasa menggunakan frasa itu untuk sekedar mengargumentasi kan tindak laku buruk yang terlanjur sudah kita lakukan? Atau mungkin, justru kalimat pendek itu adalah cerminan sempurna bahwa manusia tak sempurna, berlindung di balik tiga kata itu tadi?! Perjalanan ku bersama keluarga batihku selama 2 hari kemarin tour jawa-bali, mengisyaratkan jawaban atas pertanyaan kecil ku di atas. Kebersamaan kami setelah banyak waktu kami terkukung kesibukan pribadi dan keluarga kecil kami masing-masing, yang  terkadang juga di dera konflik2 pribadi yang berbenturan di koridor kebersamaan keluarga, memberikan sebuah sinyal positif, bahwa sesungguhnya tak mengapa jika kita berdalih bahwa kita cuma manusia biasa yg tak sempurna, tapi bukan berarti bahwa ketidaksempurnaan itu semakin merapuhkan keinginan kita, untuk menjadi sosok yang bisa senantiasa bertindak dengan berpikir matang, sebelum kita “terpaksa” berdalih ” ah, aku kan cuma manusia biasa”