World Komunika Oryza

November 11th, 2008

Why?..Why Not!!

Posted by oryzasinatra in Komunikasi

A Simple sentences that we never get deep attention in interpreting.

Yes, when someone ask, Why?, do we reflectly answer in our mind with those words..”Why Not?”

Banyak hal di dalam kehidupan keseharian, kita terhampiri pertanyaan itu. Kenapa? Lantas kemudian kita mulai menjelajahi mind map kita buat mencari jawaban atas pertanyaan sederhana itu. Kenapa kamu makan? Kenapa kamu menolak? Kenapa kamu menangis? Kenapa kamu marah? Semua itu terproses di dalam otak kita, dan kita berupaya untuk menemukan kondisi jawaban atas pertanyaan itu, yang paling tepat sebagai sebuah jawaban.

Tapi pernahkah, secara otomatis, apapun kondisi yang dicantumkan setelah kata “Kenapa” itu, kita jawab tanpa sebuah proses, dengan menjawab, “Kenapa tidak!”

Kadang, ada beberapa hal yang kita lakukan tak musti dipertanyakan. Toh, segala sesuatu nya di mulai dari sebuah asal, dan berakhir dengan sebuah hasil. Tinggal bagaimana kita merunutkan “asal” dan “hasil” yang kita ingin buat.

Berpikir sederhana, atau men”sederhana”kan sebuah persoalan, bisa jadi akan lebih meringankan langkah, untuk kemudian siap menjawab “pertanyaan-pertanyaan” penting lainnya, yang sudah pasti lebih memerlukan jawaban.

-12.22 pm/terima kasih untuk kritisi nya, semoga aku bisa jd besar karenanya:)

November 10th, 2008

If I (We) Die

Posted by oryzasinatra in Religion

Kabar eksekusi 3 terpidana peristiwa Bom Bali itu marak mewarnai televisi. Beberapa waktu sebelum nya aku sempat memberikan sedikit opini, saat adik bungsu ku menelurkan issues tentang kematian di posting face book nya.

Aku tertarik kemudian membuat sebuah tulisan kecil, menyambung issues tersebut.

If We Die..Saat Maut Menjemput

Pernah kubaca sebuah editorial tentang hal kematian; Imam Bukhori meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Ali r.a pernah berkata, “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat. Karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia.  Sekarang waktunya beramal, tidak ada penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada amal.

Rasululloh SAW bersabda, “Banyak2 lah mengingat pemusnah kenikmatan”

Kembali pada soal eksekusi yang telah dilaksanakan pada 3 terpidana mati peristiwa Bom Bali di atas. Kematian yang dilalui oleh ketiga nya, adalah syahid, sebuah kematian untuk membela sebiah keyakinan, membela Agama Alloh,  untuk sebuah tiket ke surga. Itu yang ketiga nya yakini.Kematian yang mereka “ciptakan” bagi ratusan manusia yang “tidak bersalah” - di namai dengan “JIHAD”. Lantas Milik siapa Jihad ini ?

Sebuah stasiun swasta, membuat program bertajuk, “Jihad, Milik Siapa?”

Secara umum, opini yang dibentuk, adalah bahwa Jihad yang dilakukan diatas jelas adalah SALAH, tidak sesuai dengan apa yang di maksud di dalam Islam. Ketiga nya menyebabkan ratusan kematiaan manusia atas hal yang diyakini secara menyimpang.

Sengaja ku kutip beberapa ide tulisan Bahtiar HS, yang berkaitan dengan ide post ku kali ini, lewat kolom oase iman era muslim.com:

“Bagi orang yang baik amalnya di dunia ini,“kembalinya kepada Allah bagaikan seorang musafir ketika kembali kepada keluarganya setelah bepergian jauh. Sedangkan kembalinya seorang yang durhaka kepada Allah bagaikan seorang hamba sahaya yang dipaksa kembali kepada tuannya karena telah melarikan diri darinya.”

Al-Qur’an menamai maut antara lain dengan al-yaqin (keyakinan). Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin. (QS. Al-Hijr: 99). Kematian adalah keyakinan, tak seorang pun menyangsikan kehadirannya yang pasti bakal terjadi. Sayyidina Ali ra. berkata,

Saya tidak pernah melihat suatu yang batil (yang akan punah) tetapi dianggap haq (pasti dan akan langgeng) sebagaimana halnya kehidupan dunia. Dan tidak pernah pula saya melihat sesuatu yang haq (pasti) tetapi diduga batil (lenyap tanpa wujud) seperti halnya maut.”

Jika kematian laksana sebuah pintu yang setiap orang akan melewatinya, yang memisahkan antara kehidupan di dunia dengan kehidupan entah sesudah melewatinya, maka sudah seyogyanya orientasi hidup di dunia ini hendaknya difokuskan untuk mempersiapkan kehidupan yang kedua nanti. Dan ketika manusia memiliki naluri untuk mempertahankan diri agar hidup kekal abadi (gharizatul baqa‘)

Dimana saja kamu berada, kata Al-Qur’an, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng-benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS. An-Nisa: 78).

“Mereka” (mungkin dalam tulisan ini, adalah 3 terpidana mati peristiwa Bali tersebut) - adalah orang-orang yang sudah mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal itu, yang telah membangunnya sedemikian rupa semasa di dunia ini, maka kematian yang datang dalam rupa apapun, bagi mereka seperti buncah kerinduan, sebagaimana Anas bin Nadhr ra. mencium wangi surga saat perang Uhud berkecamuk di depan mata.

Kematian justru dirindukan, tanpa rasa gentar ketakutan. Kepulangan yang  semacam ini ke haribaan ilahi digambarkan Abu Hazm seperti seorang musafir yang diliputi rasa rindu ingin cepat pulang untuk bertemu dengan anak dan istrinya yang telah berpisah dengannya sekian lama.

If I Die, harap ku aku adalah seorang musafir dan bukan seorang hamba sahaya.

October 26th, 2008

Thanks To Alloh SWT

Posted by oryzasinatra in Religion

Ya Alloh,

Terima Kasih atas segala kemudahan urusan, kelancaran lisan, dan kecerdasan pikiran yang Engkau perkenankan aku miliki pagi tadi. Tanpa Mu, aku pasti lah kesulitan memperoleh kesenangan hati yang aku rasakan saat detik ini aku menari di atas tuts keyboard vostra 1400 ku. Terima kasih ya Alloh.

October 26th, 2008

77.7 dan 90

Posted by oryzasinatra in Uncategorized

Pagi tadi aku bangun dengan segala kenervousan ku, melebihi kenervousan tanggal 2 Agustus 2003, pagi.

Sungguh, sepertinya sidang seminar ini, melebihi kegelisahan2 ku yang dulu2 juga aku sempat rasakan, tapi yg pagi tadi ku rasakan lebih dasyat. Melebihi pagi 2 Agustus 2003, dimana jam 10.00 WIB aku tak lagi menjadi seorang perempuan lajang. Melebihi kegelisahan ku di tanggal 28 Oktober 2005, pukul 20.00WIB saat aku memasuki ruang persalinan Siloam Graha Medika. Malah lebih menakutkan di banding ketika dokter anestesi menyuntikkan suntikan ke punggung ku, tgl 15 Agustus 2007,pukul 08.00 WIB, agar Sectio ku berjalan lancar. Pernikahan, kelahiran normal Alham, persalinan caesar Almas, semuanya membuat aku keringat dingin. Semua nya. Tapi apa yang aku rasa tadi pagi sungguh hampir membuat aku mampu membawa aku ke titik “ketidakpercayaan diri” yang jatuh terlalu dalam. Alhamdulillah, teman2 di Angkatan 4 demikian mengerti, bahwa peristiwa tadi pagi itu, adalah pintu pertama yang harus aku “buka”, untuk menuju destinasi terakhirku, M.Si.

Prof Andy menuliskan skor 7.77, sementara Pak Farid berbaik hati menghadiahkan 90 untuk performa presentasi ide penelitian ku.

Semoga Insya Alloh, Desember 2008, entah di hari dan tanggal apa, aku sudah tentu akan mengalami kegelisahan yang sama seperti malam tadi. Tapi harapanku, setelah itu, aku akan menggantikan kegelisahan itu dengan kebahagiaan terdalam. Amanah yang dipercayakan suami ku, Insya Alloh tertunaikan dengan baik. Aku bisa menjadi: Oryza Devi Sinatra, S.Sos,M.Si/MarComm Specialist. Amin.

October 19th, 2008

Sebuah Cita-Cita

Posted by oryzasinatra in Uncategorized  Tagged

Pagi tadi, saat di perjalanan mengantarkan Alham ke Al Bayan, di Radio Farhan sedang membuka topik tentang issues hangat dunia. Global crisis. Whuuuopss.. amerika yang demam, kita ikutan meriang. Begitu Farhan bilang tadi. Apakah benar, sedemikian besar impact yang di hasilkan?

Adalah sebuah cita-cita suatu saat kita tak perlu lagi punya program TV dengan tittle KPK (Kumpulan Perkara Korupsi), karena memang sudah tak ada lagi penjahat-penjahat berbaju necis yang bisa menjadi talent di acara tersebut.

Adalah sebuah cita-cita, aku dan banyak ibu lainnya, bisa dengan nafas lega mengatur uang belanja RT mingguan, tanpa di warnai kerutan di wajah (yang notebene bukan atas bantuan P***S, kosmetik perempuan objek penelitian ku itu.

Adalah sebuah cita-cita, aku tak menjadi miris hati lagi, melihat seorang bayi yang coreng-moreng terkena asap knalpot kendaraan di lampu-lampu merahi,  yang digendong berpanas matahari demi sekeping logam 500rp.

Apakah memang cuplikan kecil itu memang tetap harus jadi sebuah cita-cita, tanpa makna?

Bisakah kita  punya pemimpin yang selalu memiliki kata sakti “Harus Bisa!”di setiap perbuatannnya? Kapan the next leaders itu lahir??

October 11th, 2008

Ummu Madrasatun ‘Ula

Posted by oryzasinatra in Being A Mom

…Jika kita mengaku sebagai orang yang perduli dengan ayat-ayat Alah, seharusnya kita wajib mengembalikan posisi perempuan ke tempat yang sangat terhormat sebagai Ummu Madrasatun ‘Ula, Sang Pendidik Utama di dalam keluarga, jadi bukan menyerahkan pendidikan anak-anak kita kepada pesawat teve, pembantu, atau guru yang datang ke rumah kita karena mendapat honor. Kita harus menentang dan menolak sunnah-Yahudi, walau langkah itu terkesan kurang populer di masa sekarang. Karena al-haq itu tetaplah al-haq, walau hal itu populer atau tidak..(eramuslim.com)

Cuplikan di atas sempat terbaca oleh ku, dan aku hanya bisa berkata dalam hati, Alhamdulillah. Alhamdulillah karena aku bisa di amanahi Alloh 2 mutiara hati, Ghaza& Ghasanni. Alhamdulillah karena aku berkesempatan merawat mereka 24 jam dengan tangan ku sendiri. Alhamdulillah karena aku bisa memberikan ASI eksklusif untuk Ghasanni. Alhamdullilah karena mereka aku selalu bersemangat menyelesaikan Master ku.

Tadi malam aku sempat membuka dan membaca lagi majalah Parenting ku. Ada sebuah artikel bagus tentang bagaimana “berat” nya menjadi seorang ibu. Jadi Ibu adalah kerja 24 jam non stop (mungkin 24 jam saja masih kurang ya?:)), tanpa jeda istirahat formal, plus teriakan, tangisan, rengekan yang kalo semua nya di ladeni bisa bikin jantung makin cepat berdebar, menahan emosi jiwa. Susah kah jadi ibu yang sendiri turun tangan merawat buah hati tercinta? Bisa ku jawab dengan pasti, TIDAK - SELAMA KITA IKHLAS MELAKUKAN NYA.  That was I did. Bisa jadi orang pertama yang tahu, tumbuh gigi baru di mulut Almas, bisa jadi interpreter sejati untuk celotehan Almas, jadi sebuah hal priceless bagi ku. Di artikel itu, yang membuatku sangat bahagia adalah, bahwa tugas ku sekarang (yang maha penting di bandingkan saat aku duduk menjadi Head of PR di Pusat Perbelanjaan besar di Jakarta itu) adalah masa menanam, dan kelak aku bisa menuai hasilnya. Ah, tidak. Sekarang pun aku sudah menuai. Hal di atas yang aku bagi barusan, itu adalah keuntungan ku. Ah, senang nya bisa jadi ibu!

October 7th, 2008

Manusia Biasa

Posted by oryzasinatra in Uncategorized

Pagi itu seorang sahabat perempuan menelepon ku. Seorang sahabat yang sangat lama tak pernah mengirimkan kabar nya pada ku. Jadi telepon nya pagi itu sangat lah mengejut kan ku. Tapi tenyata kejutan itu tak hanya berhenti di situ. Ia mulai menceritakan semua peristiwa yang ia alamai selama kurun waktu lama kami tak saling berkomunikasi. Sahabatku itu bercerita, bahwa ia telah banyak melakukan kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang mungkin di kacamata manusia, sulit untuk diterima dengan ikhlas untuk di maklumi. Yang tidak bisa di excuses hanya dengan kalimat “Ah, kita kan cuman manusia, yang gak luput dari khilaf, manusia kan gak sempurna” Dalih bahwa manusia itu t ak sempurna itu kemudian menjadi sebuah pemikiran bagi ku. Apakah benar, kita bisa senantiasa menggunakan frasa itu untuk sekedar mengargumentasi kan tindak laku buruk yang terlanjur sudah kita lakukan? Atau mungkin, justru kalimat pendek itu adalah cerminan sempurna bahwa manusia tak sempurna, berlindung di balik tiga kata itu tadi?! Perjalanan ku bersama keluarga batihku selama 2 hari kemarin tour jawa-bali, mengisyaratkan jawaban atas pertanyaan kecil ku di atas. Kebersamaan kami setelah banyak waktu kami terkukung kesibukan pribadi dan keluarga kecil kami masing-masing, yang  terkadang juga di dera konflik2 pribadi yang berbenturan di koridor kebersamaan keluarga, memberikan sebuah sinyal positif, bahwa sesungguhnya tak mengapa jika kita berdalih bahwa kita cuma manusia biasa yg tak sempurna, tapi bukan berarti bahwa ketidaksempurnaan itu semakin merapuhkan keinginan kita, untuk menjadi sosok yang bisa senantiasa bertindak dengan berpikir matang, sebelum kita “terpaksa” berdalih ” ah, aku kan cuma manusia biasa”

September 27th, 2008

Ketika Romeo (membenci) Juliet

Posted by oryzasinatra in Komunikasi  Tagged

Baru di pasca sarjana ini aku tahu, kalau cerita klasik romansa Romeo dan Juliet itu adalah sebuah semiotika - Ilmu yang membahas tentang tanda disebut dengan semiotik (the study of signs).

Drama klasik romansa itu, menandakan sebuah relasi yang tak mungkin bisa “bertemu” di sebuah titik keharmonisan, karena nya di bangun sebuah mimpi idealis, yang mempertemukan “ketidaksesuaian” itu menjadi sebuah relasi yang harmonis.

Kembali pada keinginan untuk membangun relasi harmonis itu, seyogya nya kita bisa lebih sedikit sensitif, apakah kita telah benar-benar membangun sebuah jembatan tanpa pamrih dengan orang-orang di sekeliling kita, tanpa melihat label yang menempel. Apakah kita telah sedemikian tulus dengan mereka-mereka yang bersedia memberikan segala sesuatu yang di miliki, hanya untuk mempermudah hidup kita?

Kadang sebuah kebaikan terasa begitu “biasa” dan tak “istimewa” lagi, karena kita merasakannya setiap hari. Istri yang bangun sejak pukul 04.00 dan mulai beraktifitas tanpa “henti” - menyiapkan segala kebutuhan suami dan anak-anak, seorang suami yang rela menahan rindu pergi jauh dari pelukan hangat istri serta teriakan-teriakan kecil yang manja dari mulut-mulut kecil, atau apa pun hal-hal baik yang tak lagi terasa istimewa, karena terlalu biasa dan sering di peroleh tanpa susah payah.

Jadi, haruskan Romeo (membenci) Juliet? Ataupun sebalik nya, karena tak lagi terasa penanda dan petanda di antara relasi-relasi sosial yang ada.

September 18th, 2008

Perempuan

Posted by oryzasinatra in All About Women

Karena (aku, kau, dan dia ) adalah seorang Perempuan

Mula sebuah kehidupan berasal dari rahim seorang perempuan..
di pangkuan perempuan lah seseorang mulai belajar..
merasa..berpikir..dan berkata-kata.

Karena (aku, kau, dan dia ) adalah seorang perempuan..
tak perlu sejuta alasan untuk menyatakan bahwa (kita) perempuan merasa    bahagia
dan berbangga terlahir sebagai seorang
Perempuan.

August 30th, 2008

Televisi, Jadi Teman atau Lawan?

Posted by oryzasinatra in Television

Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Pakar ilmu sosial mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu, masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan masyarakat agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakar menganggap masyarakat industri dan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional.

Masyarakat dapat pula diorganisasikan berdasarkan struktur politiknya: berdasarkan urutan kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat band, suku, chiefdom, dan masyarakat negara.
Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama.

Masyarakat memiliki struktur dan lapisan yang berenakaragam tergantung pada kompleksitas masyarakat itu sendiri. Semakin kompleks suatu masyarakat, maka struktur masyarakat itu semakin rumit pula. Kompleksitas masyarakat juga ditentukan oleh ragam budaya dan proses-proses sosial yang dihasilkannya. Semakin masyarakat itu kaya dengan kebudayaannya, maka semakin rumit proses-proses sosial yang dihasilkannya – yang pada akhirnya mempengaruhi proses komunikasi di dalam masyarakat tersebut. Baik secara individu, kelompok, maupun masyarakat luas. Dalam konteks komunikasi subtansi yang menentukan bentuk komunikasi itu sendiri adalah; (1) pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi (komunikator dan khalayak, (2) cara yang ditempuh, (3) kepentingan atau tujuan komunikasi, (4) ruang lingkup yang melakukannya, (5) saluran yang digunakan; dan (6) isi pesan yang disampaikan. Sehubungan dengan itu, maka kegiatan komunikasi dalam masyarakat dapat berupa komunikasi tatap muka yang terjadi pada komunikasi interpersonal dan kelompok serta kegiatan komunikasi yang terjadi pada komunikasi massa. Kedua komunikasi ini, terutama komunikasi massa, mengandalkan teknologi telematika khususnya media massa sebagai teknologi penting dalam proses kegiatan komunikasi.
Media massa adalah media komunikasi dan informasi yang melakukan penyebaran informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara missal pula. Informasi massa adalah informasi yang diperuntukkan untuk khalayak banyak bukan informasi yang dikonsumsi secara pribadi. Komunikasi Massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas.

Bittner (dalam Karlinah, dkk 1999):
“Mass Communication is messages communicated trough a mass medium to a large number of people”

Dengan demikian konsep dasar dari komunikasi massa adalah komunikasi dengan media massa. Media massa merupakan institusi penghubung seluruh kmponen masyarakat melalui produk media massa yang dihasilkan. Dalam penyampaian berbagai produk tayangan, media massa berupaya secara maksimal menyesuaikan dengan heterogonitas khlayaknya dari berbagai sosio-ekonomi, kultural dan lainnya. Produk media pun pada akhirnya dibentuk sedemikian rupa, sehingga mampu diterima oleh banyak orang. Media massa menjadi medium budaya massa yang bersifat hiburan.

Menurut Richard Dyers (During,1993;271-272), hiburan merupakan respons emosi jiwa dan perkembangan implikasi emosi diri, merupakan suatu tanda keinginan manusia yang meronta-ronta ingin ditanggapi dengan memenuhinya. Prinsip yang subtansi dalam hiburan adalah kesenangan yang tertanam dan menjelma dalam kehidupan manusia sehingga pada kesempatan lain akan menjelma menjadi budaya manusia – yang akhirnya kesenangan itu menjadi larut dalam kebutuhan manusia yang lebih besar bahkan menjadi eksistensi kehidupan manusia. Konteks sosial semacam ini lebih cenderung membawa manusia dalam dunia yang serba tiruan, dalam artian kefanaan menjadi sebuah tujuan kongkret dari apa yang diperjuangkan manusia itu sendiri. Dan saat tipuan itu dimanipulasi oleh industri, maka tipuan ini menjadi abadi dalam dunia fana.

Kemajuan teknologi telekomunikasi ini telah membentuk dunia seolah begitu kecil, semua kejadian di belahan dunia manapun terlihat dalam sekejap dihadapan kita. Teknologi modern menjadikan informasi global dapat diperoleh di seluruh dunia; melalui televisi dan internet, dimana menjadikan situasi di dunia luar terbentang di layar kaca.

Media massa secara real telah menjadi salah satu kebutuhan hidup manusia sebagai masyarakat media dibelahan dunia manapun untuk dapat berinteraksi dengan individu masyarakat media lainnya. Seperti yang telah disinggung di awal bahwasanya media massa bernilai hiburan bagi individu, yang secara teoritis juga berfungsi sebagai saluran informasi dan edukasi. Namu kenyataannya media massa memberikan efektif lain di luar fungsinya itu. Efek media massa tidak hanya mempengaruhi sikap seseorang namun juga mempengaruhi perilaku, bahkan pada tatarn yang lebih mendalam efek media massa mempengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat. Efek media mempengaruhi individu dalam kurun waktu pendek dan panjang, ini disebabkan efek media massa dapat terjadi secara sengaja maupun tanpa sengaja dalam penerimaannya di masyarakat.

Denis McQuail (2002:425-426) menjelaskan, bahwa efek media massa memiliki typology yang mana terdiri dari empat bagian yang besar. Pertama efek media merupakan efek yang direncanakan, sebagai sebuah efek yang diharapkan terjadi baik oleh media massa sendiri maupun individu yang menggunakan media massa untuk kepentingan penyebaran informasi. Kedua, efek media massa yang tidak direncanakan atau tidak dapat diperkirakan, sebagai efek yang benar-benar di luar kontrol media, diluar kemampuan media maupun orang lain yang menggunakan media untuk penyebaran informasi melalui media untuk mengontrol terjadinya efek media massa.Jadi, pada efek kedua ini, efek media terjadi dalam kondisi tidak dapt dikontrol. Ketiga, efek media massa terjadi dalam waktu pendek, namun secara cepat, instant, dank eras mempengaruhi individu atau kelompok masyarakat. Keempat, efek media massa berlangsung dalam waktu yang lama, sehingga mempengaruhi sikap-sikap adopsi inovasi, kontrol sosial sampai dengan persoalan-persoalan perubahan budaya.

Dalam perjalanan perkembangan komunikasi, efek media massa sebagai satu medium penyebaran informasi, edukasi maupun hiburan, mengalami perputaran (cycle) dalam teori nya. Khususnya yang berkenaan dengan teori efek media massa televisi. Hingga kini masih banyak pengamat televisi yang begitu yakin mengenai efek pesan televisi. Pesan melalui televisi diyakini berpengaruh langsung terhadap pemirsanya, baik itu kognitif, afektif, maupun behavioral. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang begitu yakin bahwa televisi dapat merusak ideologi suatu bangsa. Keyakinan itu memang ada dasar rujukannya. Awalnya, media massa dipandang berpengaruh kuat. Pengaruhnya langsung terhadap perubahan sikap dan perilaku masyarakat yang pasif dan tidak selektif. Masyarakat demikian dianggap menerima begitu saja setiap rangsangan (pesan) dari media massa. Pandangan berikutnya, pengaruh media massa dianggap terbatas. Anggapan ini muncul setelah banyak studi yang memperlihatkan bahwa pengaruh media massa ditentukan oleh perilaku selektif masyarakat. Selektivitas yang dimaksud meliputi seleksi terpaan
(selective exposure), pemahaman (selective perception), dan ingatan (selective retention). Lalu muncul pandangan yang berasumsi bahwa masyarakat bukan kelompok pasif (social vacuum) yang berperan sebagai posisi penerima pesan media semata. Pandangan mengenai efek media massa belakangan ini kembali pada anggapan awal bahwa efek media massa dapat berpengaruh kuat
(powerful effect). Namun pengaruh tersebut dapat terjadi bila dalam melakukan tindak komunikasi melalui media massa dipenuhi persyaratan tertentu. Salah satunya nya bila program tersebut dikemas secara baik dengan menggunakan prinsip-prinsip teori komunikasi.

Menjadi semakin menarik memperbincangkan apakah memang sedemikian kuat (powerfull) efek media massa terhadap perilaku individu penikmat televisi? Apakah televisi juga memiliki peran dalam berbagai masalah-masalah sosial yang ada di sekitar kehidupan kita di masyarakat? Lantas apakah mungkin media massa tetap dapat berfungsi sebagai agent of change yang mendidik, menghibur dan informatif bukan sebaliknya sebagai agent of destroyer – institusi pemberi informasi dan hiburan yang tidak edukatif. Menghadapi persoalan ini, sesungguhnya secara substansial sebenarnya media massa saat ini sudah bermasalah. Media massa modern distigmakan sebagai institusi “penghasut”, “pencetus kerusuhan”, “pencetus masalah sosial”, “trigger (penyebab) jiwa-jiwa individu ketakutan, paranoid, dsb nya atas hal-hal yang ada di lingkungan hidupnya.

Media massa sungguh-sungguh ingin menunjukkan kepada masyarakat konsumennya bahwa ia adalah benar-benar replikasi dari masyarakatnya, karena itu media massa juga harus tampil dalam bentuk kekerasan dan sadistis – demikian media massa seolah juga harus punya karakter yang sama dengan kondisi yang ada di masyarakat tersebut, penuh dengan adegan kekerasan dan sadistis yang membuat masyarakat merinding dan mengelus dada. Padahal secara empiris replikasi media massa akan terulang oleh konsumen medianya. Masyarakat mereplikasi informasi media massa dalam proses konstruksi-dekonstruksi. Kekerasan dan sadisme media massa dapat dikonsumsi oleh khlayak baik dari berita (hard news), film horror dan kekerasan ataupun tayangan kriminalitas.

Di industri Indonesia sendiri, dengan 10 televisi nasional swasta tayangan bernuansa kekerasan dan sadistis memperoleh porsi yang tidak sedikit. Program seperti Derap Hukum, Patroli, Tikam, Buser dll mengkonstruksi kekerasan yang ada di masyarakat sedemikian gamblang seolah hal yang lumrah dan biasa. Kekerasan media massa bisa muncul secara fisik maupun verbal bagi media televisi, dari kekerasan kata-kata kasar sampai dengan siaran-siaran rekonstruksi kekerasan seperti yang disebutkan sebelumnya.

Bentuk kekerasan dan sadisme media massa dengan modus yang sama di semua media massa baik cetak maupun elektronika, lebih banyak menonjolkan kengerian dan keseraman daripada tujuan ditayangkannya pemberitaan itu sendiri.

Kejahatan di media terdiri atas beberapa macam, seperti (1) kekerasan terhadap diri sendiri, seperti bunuh diri, meracuni diri sendiri, menyakiti diri sendiri dll; (2) kekerasan kepada orang lain, seperti menganiaya orang lain, membentak orang lain sampai dengan membunuh; (3) kekerasan kolektif, seperti perkelahian misal, komplotan melakukan kejahatan maupun sindikat perampokan; (4) kekerasan dengan skala yang lebih besar, seperti peperangan dan terorisme yang dampaknya memberi rasa ketakutan dan kengerian luar biasa kepada pemirsanya.

Tujuan menonjolkan kengerian dan keseraman di dalam konten hasil produksi media massa tak lain adalah agar media massa dapat membangkitkan emosi pemirsa dan pembaca, emosi tersebut menjadi magnet dengan daya tarik luar biasa untuk membaca atau menonton kembali acara dengan konten yang sama setiap disiarkan. Emosi berupa perasaan empati dan simpati terhadap objek pemberitaan sehingga mendorong pemirsa dan pembaca mencurahkan perhatian lebih terhadap acara tersebut. Bagi media massa elektronik, membangun emosi melalui cara seperti ini merupakan suatu hal yang tidak sulit, karena dengan gambar-gambar yang menyeramkan dan sedikit efek audio visual – emosi masyarakat akan mencapai puncaknya. Secara lebih spesifik produksi media massa seperti tayangan mistis adalah sebuah konstruksi sosial produsen terhadap bentuk-bentuk ”ketakutan/kengerian”. Kenapa tayangan seperti ini diproduksi oleh media massa? Karena ada sebuah demand dari masyarakat – sesuatu yang dibutuhkan, sesuatu budaya, tradisi di masyarakat yang menjadi problem batiniah individu.

Dunia virtual terkonstruksi sedemikian rupa hampir nyaris sempurna seolah segalanya bisa dibawa ke dalam dunia nyata. Film fiksi, laga dll secara skema kognitif merupakan naskah yang ada dalam pikiran kita yang menjelaskan tentang alur peristiwa. Kita tahu bahwa dalam sebuah film laga, yang mempunyai lakon atau aktor/aktris yang sering muncul, pada akhirnya akan menang. Oleh karena itu kita tidak terlalu cemas ketika sang pahlawan jatuh dari jurang. Kita menduga, pasti akan tertolong juga. Bagaimana jika hal tersebut ada di dunia nyata, kita yang merasa orang baik sedang dirampok dan dalam situasi terjepit, apakah juga kita mampu berpikir bahwa kita akan selamat atau akan ada pahlawan super yang datang menolong dan seketika menciptakan perasaan aman dalam diri kita secara instant?

Sebagai ilustrasi lain, ketika bencana Tsunami melanda Tanah Rencong, hampir semua stasiun televisi di Indonesia (maupun dunia) menyiarkan gambar-gambar yang sama, berkali-kali televisi menyiarkan gambar-gambar close up mayat-mayat di selokan, diatas rumah dan sebagainya yang sudah membusuk, sehingga dengan mudah menimbulkan kengerian yang luar biasa bagi pemirsa televisi. Semakin dramatis adegan-adegan yang ditayangkan akan semakin menjadi obyek perbincangan seru di antara individu yang akhirnya obyektivitas konten dari tayangan tersebut menjadi kabur bahkan nyaris hilang baik secara subtansial dan emosional. Konstruksi sosial melalui media massa mampu membangun theater of mind yang pada akhirnya melahirkan jiwa individu yang kerap dirudung rasa tidak aman secara fisik dan non –fisik.

Menurut Teori Agenda setting, media berperan sangat besar dalam mempengaruhi apa yang dipikirkan dan dibicarakan masyarakat. Media massa menyaring berita, artikel, atau tulisan yang akan disiarkannya. Secara selektif, gatekeepers menentukan mana yang pantas diberitakan dan mana yang harus disembunyikan (Rakhmat, 2002:228-229). Diperkenalkan oleh McCombs dan Donald Shaw dalam Public Opinion Quarterly, thn 1972 – The Agenda Setting Function of Mass Media; asumsi dasar Teori Agenda Setting:

“…jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa,maka media itu akan mempengaruhi khlayak untuk mengganggapnya penting”

Lebih jauh McCombs & Donald Shaw juga menambahkan, bahwa audience mempelajari seberapa besar arti penting sebuah topik dari cara media memberikan penekanan pada topik tersebut.
Dalam hubungan media massa dan masyarakat dari perspektif fungsional dan struktural sebagai saluran informasi dan hiburan yang edukatif – sebuah obyek dapat menjadi agenda pemberitaan melalui 3(tiga) tahap Agenda Setting yaitu:
1. Media Agenda
Dimana isu didiskusikan dalam media
2. Public Agenda
Ketika isu didiskusikan dan secara pribadi sesuai dengan khalayak
3. Policy Agenda
Pada saat para pembuat kebijaksanaan menyadari pentingnya isu tersebut

Kekerasan dengan skala yang lebih besar di media massa seperti yang dikemukakan sebelumnya, seperti peperangan dan terorisme memberikan efek rasa ketakutan dan kengerian lebih dari biasa kepada pemirsanya. Saat peristiwa Bom Bali di Kuta Bali 12 Oktober 2002 terdapat banyak efek komunikasi antar individu dan interaksi sosial yang dihasilkan dari pemberitaan peristiwa di media massa tersebut. Pemberitaan di media atas peristiwa Bom Bali ini secara makro menjelaskan secara gamblang dimensi pengaruh media kepada masyarakat luas. Teorisme dikaitkan dengan kelompok Islam radikal, istilah “jihad” menjadi kabur dari konteks yang sebenarnya dalam ajaran Islam, dan yang ironisnya kemudian label “teroris” sangat lekat dengan Islam.

Kontruksi media massa baik cetak maupun elektronik atas peristiwa terror Bom Bali 2002 ini begitu banyak rupa sehingga mampu memanipulasi emosi khalayaknya dalam ruang binis kapitalis industri media massa. Dalam bisnis, prinsip “keramat” yang berlaku adalah keluarkan biaya serendah-rendahnya dalam produksi untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Lumrah saja. Hanya, ketika demi bisnis terjadi eksploitasi berlebihan, asas keadilan hilang, sisi perasaan publik terabaikan, dan banyak kelumrahan yang perlu dipertanyakan. Media Massa eletronik, dengan kekuatan pengaruhnya, bisa menjadi alat diplomasi virtual yang sangat efektif ketika menyampaikan pesan. Tak hanya Industri televisi di Indonesia Amerika Serikat, sebagai negara digdaya dunia dan juga negara yang senang perang, menyadari betul ketika CNN mendapat tandingan dari Al-Jazeera, Qatar, dalam Perang Irak. Amerika mulai kehilangan kekuasaan absolutnya dalam membentuk opini dunia ketika Al-Jazeera menyiarkan peristiwa yang sama dengan sudut pandang berbeda.

Televisi tentu tidak hanya penting bagi alat politik, tapi juga budaya. Bayangkan seandainya yang selalu tampil di acara hiburan televisi hanyalah obral seksual, adegan ciuman bibir, pamer paha, pergaulan bebas mengarah pada sikap hedonisme, mistis dan tahyul,. Sudah barang tentu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tayangan-tayangan itu berubah wujud menjadi pola kehidupan nyata. Tindak kriminalitas pemerkosaan, penguguran kandungan karena perilaku seks bebas, narkoba, perkelahian pelajar menjadi head line surat-surat kabar baik dengan tiras besar maupun kecil, dengan segmen pasar eksklusif maupun kacangan.

Masalah-masalah sosial menjadi lebih terangkat ke permukaan karena salah kaprahnya media massa menjalankan fungsinya yang seyogyanya menjadi agent of change dan bukan agent of destroyer, memberikan rasa nyaman dengan produksi media massa yang mendidik dan berkualitas, bukan menciptakan rasa ketakutan yang mengarah pada masalah-masalah sosial tersebut. Inti persoalan-persoalan sosial yang ada di lingkungan kita yang bersinggungan baik langsung maupun tidak langsung dari efek penggunaan media massa adalah bagaimana kita menanggapi hal-hal yang dapat dijadikan indikator terbitnya suatu masalah sosial dan kemudian mengejewantahkan jawaban-jawaban atas masalah-masalah sosial tersebut di dalam sebuah skema inventori fungsional parsial komunikasi massa – baik melalui agenda pemberitaan, pilihan editorial sampai dengan transmisi budaya. Sesungguhnya tidak ada alasan yang rasional untuk membenarkan produksi media massa seperti ilustrasi-ilustrasi di atas bermanfaat bagi masyarakat. Satu-satunya alasan yang mendasari produsen tetep memproduksi tayangan tidak bermutu tersebut adalah tuntutan bisnis semata – rating yang tinggi sudah barang tentu menyedot iklan sebanyak-banyaknya yang menghasilkan keuntungan kepada pemilik media massa.

Next Page »